Ini adalah adalah cerita waktu saya mencari kerja di Singapura. Saya dapat panggilan dari salah satu agen pencari kerja di Singapura. Agen ini bilang saya mau di-interview besok. Terus dia bilang lagi di-interview-nya besoknya lagi. Pada "besok yang pertama" saya di-interview di kantornya agen tersebut. Per-tama2 saya dimasukkan ke ruangan tertutup yang berukuran kurang lebih 3x3 meter. Di dalamnya hanya ada satu meja kecil dan dua kursi. Saya diberikan satu dokumen (bukan oleh agen yang menelpon saya) buat diisi. Mungkin ada 40 menit saya di dalam sana, terus handphone saya berbunyi. Per-tama2 saya ditanya ada dimana (koq masih ditanya), lalu saya disuruh keluar dari kamar itu. Yang menyambut saya di luar kamar tersebut masih bukan agen yang menelpon saya (koq bisa?) karena dia se-akan2 melihat saya baru datang dari luar. Kemudian datang agen yang menelpon saya. Kenapa di agensi ini harus 2x bertemu orang lain sebelum orang yang dimaksud, apalagi saat saya sudah ditelpon di tempat yang sama, bukankah secara insting harusnya agen tersebut tahu yang baru menelpon itu saya?
Kemudian saya diminta menyerahkan paspor dan dokumen yang diisi sebelumnya. Lalu dia kembali menyuruh saya ke kamar sempit tersebut untuk menunggunya. Agen tersebut menemui saya dan menyuruh saya menandatangani dokumen yang sebelumnya saya isi. Saya pikir sebelumnya dokumen tersebut cuma keterangan curriculum vitae saja. Dia menjelaskan poin2 di akhir dokumen tersebut dan saya menandatanganinya. Saya pikir ini kebiasaan di Singapura, karena saya tidak berpengalaman di bidang ini. Saat pulang, saya bertanya apakah ini memang kebiasaan di Singapura. Setelah berkonsultasi, ternyata ada cerita2 tentang agen yang jahat, dan saya sebaiknya meminta fotokopi dari dokumen yang saya tanda tangani, apapun isi dokumen itu. Karena itu saya menelpon agen itu lagi, dan agen itu bilang kalau dokumen yang saya tanda tangani itu bukan dokumen yang legal. Saya merasa agak aneh, kenapa harus ditandatangani kalau bukan dokumen legal. Karena itu saya memaksa agar dia mengirim dokumen tersebut lewat email. Dan email tersebut tidak pernah datang pada hari itu. Karena itu saya mengirim email yang menjelaskan bahwa tanda tangan saya pada dokumen itu tidak sah karena saya curiga. Ada beberapa alasan yang saya kemukakan, tapi yang penting adalah kenapa dokumen itu tidak dikirim juga, padahal agen itu sudah menyanggupi akan mengirimnya?
Keesokan harinya saya datangi agen tersebut, dia tidak dapat dihubungi. Saya pergi ke klien dan bertanya kepada humas di klien, bilangnya selesaikan sama agennya saja. Terus saya disuruh menyerahkan berkas2 akademis saya. Lalu ada seseorang datang dan bilang ke saya bahwa interview-nya dibatalkan oleh pihak agen, tapi saya disuruh tetap menunggu. Lalu orang tersebut datang lagi dan menyatakan bahwa saya dipanggil interview. Saya sudah merasa aneh sekali, sejak kapan ada kejadian seperti ini? Saya diinterview, lalu diberi tahu bahwa kabar diterima atau tidak akan dikabarkan agen. Kenapa saya masih diinterview, padahal orang yang sama bilang bahwa interview saya sudah dibatalkan?
Sehabis interview saya kembali ke agen, dan di masih tidak dapat dihubungi. Alasannya sangat aneh. Dua kali saya ke sana, pertama alasannya belum datang, kedua alasannya mengambil half day leave (cuti setengah hari). Waktu saya sudah pulang saya coba hubungi lagi, kali ini alasannya cuti sepanjang hari (medical leave). Saya mengirim email ke agen tersebut dan menanyakan kejadian2 yang saya alami pada hari tersebut. Kenapa alasannya bisa ber-beda2, bukannya pihak kantor seharusnya me-monitor keadaan karyawannya?
Keesokan harinya, saya ditelpon oleh agen tersebut. Dia menyatakan bahwa dia tidak tahu menahu kejadian waktu saya di-interview. Bahkan dia ber-ulang2 bertanya, siapa yang memberi tahu saya bahwa interviewnya dibatalkan? Kenapa dia harus meng-ulang2 pertanyaan tersebut, se-akan2 ingin menanamkan asumsi bahwa kejadian kemarin itu tidak terjadi?
Lalu agen tersebut bilang bahwa dia akan mengirimkan dokumen yang saya tanda tangani lewat email. Saya sudah benar2 pesimis dengan agen ini. Tampaknya dia cuma ber-main2 waktu saya minta dokumen tersebut pertama kali, dan butuh 2 hari bagi dia untuk memenuhi permintaan saya yang pada dasarnya dan prakteknya sangat sederhana. Dia memang mengirim dokumen itu, tapi kenapa awalnya dia tidak mengirim dokumen tersebut? Saya yakin kantor itu punya fasilitas yang cukup baik. Kenapa agen tersebut tidak mengirimnya pada pertama kali saya minta, dan kenapa dia masih bilang dokumen yang saya tanda tangani bukanlah dokumen yang legal?
Kemudian saya diminta menyerahkan paspor dan dokumen yang diisi sebelumnya. Lalu dia kembali menyuruh saya ke kamar sempit tersebut untuk menunggunya. Agen tersebut menemui saya dan menyuruh saya menandatangani dokumen yang sebelumnya saya isi. Saya pikir sebelumnya dokumen tersebut cuma keterangan curriculum vitae saja. Dia menjelaskan poin2 di akhir dokumen tersebut dan saya menandatanganinya. Saya pikir ini kebiasaan di Singapura, karena saya tidak berpengalaman di bidang ini. Saat pulang, saya bertanya apakah ini memang kebiasaan di Singapura. Setelah berkonsultasi, ternyata ada cerita2 tentang agen yang jahat, dan saya sebaiknya meminta fotokopi dari dokumen yang saya tanda tangani, apapun isi dokumen itu. Karena itu saya menelpon agen itu lagi, dan agen itu bilang kalau dokumen yang saya tanda tangani itu bukan dokumen yang legal. Saya merasa agak aneh, kenapa harus ditandatangani kalau bukan dokumen legal. Karena itu saya memaksa agar dia mengirim dokumen tersebut lewat email. Dan email tersebut tidak pernah datang pada hari itu. Karena itu saya mengirim email yang menjelaskan bahwa tanda tangan saya pada dokumen itu tidak sah karena saya curiga. Ada beberapa alasan yang saya kemukakan, tapi yang penting adalah kenapa dokumen itu tidak dikirim juga, padahal agen itu sudah menyanggupi akan mengirimnya?
Keesokan harinya saya datangi agen tersebut, dia tidak dapat dihubungi. Saya pergi ke klien dan bertanya kepada humas di klien, bilangnya selesaikan sama agennya saja. Terus saya disuruh menyerahkan berkas2 akademis saya. Lalu ada seseorang datang dan bilang ke saya bahwa interview-nya dibatalkan oleh pihak agen, tapi saya disuruh tetap menunggu. Lalu orang tersebut datang lagi dan menyatakan bahwa saya dipanggil interview. Saya sudah merasa aneh sekali, sejak kapan ada kejadian seperti ini? Saya diinterview, lalu diberi tahu bahwa kabar diterima atau tidak akan dikabarkan agen. Kenapa saya masih diinterview, padahal orang yang sama bilang bahwa interview saya sudah dibatalkan?
Sehabis interview saya kembali ke agen, dan di masih tidak dapat dihubungi. Alasannya sangat aneh. Dua kali saya ke sana, pertama alasannya belum datang, kedua alasannya mengambil half day leave (cuti setengah hari). Waktu saya sudah pulang saya coba hubungi lagi, kali ini alasannya cuti sepanjang hari (medical leave). Saya mengirim email ke agen tersebut dan menanyakan kejadian2 yang saya alami pada hari tersebut. Kenapa alasannya bisa ber-beda2, bukannya pihak kantor seharusnya me-monitor keadaan karyawannya?
Keesokan harinya, saya ditelpon oleh agen tersebut. Dia menyatakan bahwa dia tidak tahu menahu kejadian waktu saya di-interview. Bahkan dia ber-ulang2 bertanya, siapa yang memberi tahu saya bahwa interviewnya dibatalkan? Kenapa dia harus meng-ulang2 pertanyaan tersebut, se-akan2 ingin menanamkan asumsi bahwa kejadian kemarin itu tidak terjadi?
Lalu agen tersebut bilang bahwa dia akan mengirimkan dokumen yang saya tanda tangani lewat email. Saya sudah benar2 pesimis dengan agen ini. Tampaknya dia cuma ber-main2 waktu saya minta dokumen tersebut pertama kali, dan butuh 2 hari bagi dia untuk memenuhi permintaan saya yang pada dasarnya dan prakteknya sangat sederhana. Dia memang mengirim dokumen itu, tapi kenapa awalnya dia tidak mengirim dokumen tersebut? Saya yakin kantor itu punya fasilitas yang cukup baik. Kenapa agen tersebut tidak mengirimnya pada pertama kali saya minta, dan kenapa dia masih bilang dokumen yang saya tanda tangani bukanlah dokumen yang legal?